Polewali Mandar mukhsinpro@gmail.com 081342023999

Blognya Anak Muda

Top Billboard on this Weekend

Showing posts with label Tongkrongan Galau. Show all posts
Showing posts with label Tongkrongan Galau. Show all posts

Saturday, December 12, 2015

Green Mind


Andai boleh meminta ajal lebih dulu,
akan kudahului daun yang berguguran...
Sematkan ukiran nama pada nisan-nisan...
Biar tunas itu baru 'kan bertumbuh, tapi
biarkan pula ia segera pergi.
Aku tak lagi ingin peduli.
Bahkan hujan tak lagi menyimpan isyarat,
ia rebahkan pula sesukanya.
Serta merta aku meminta ajal lebih dulu,
bahkan dinginnya setajam belati yang tak terlihat.
Mungkin 'kan kurumahkan impian-impian
biar saja terikat debu, rayap, dan melapuk.
Tapi air mata. Air mata dan air mata.
Menyergapku sementara waktu.
Seketika itu, aku meminta pada Yang Maha Kasih,
di bawah kaki langit, "bisukan aku dari fatamorgana."
Setidaknya aku punya kesempatan,
menitip bahagia, meninggalkan jejak
dan pada akhir waktu, aku siap.
Aku siap menunaikan derai nafas 
dari sandiwara dunia dengan indah. Indah sekali.

*Sumber : Asyrah

Friday, December 4, 2015

Aku Masih Ada

Hai, bagaimana kabarmu ?

Aku sedang duduk di teras sembari berkelakar kamu sedang apa di tempat yang tidak mampu kujangkau. Namun aku masih mengimani bahwa mungkin saja kamu masih teringat tentang kita.

Kadang aku ingin menjadi seekor burung yang bisa terbang jauh dan hinggap di dahan pohon hanya untuk melihatmu.

Bila suatu hari kita bertemu dan ingatanmu kembali, kumohon jangan ada benci yang membuat kita menjadi asing. Aku ingin kita saling memamerkan senyum bahagia, ya. Aku mau kita sama-sama bertukar cerita tentang pengalaman selama kamu pergi, atau kita jodohkan saja anak kita kelak ? Ini bukan ide gila, kan ? Aku sudah waras kok.

Sebenarnya aku tidak berharap besar, namun sudikah kiranya kuharap kita menjadi dua orang yang mengakhiri peluk dan cium untuk kisah yang penuh kasih sebagai sahabat. Aku masih menanamkan kepercayaan, walaupun di dalam kepalamu tidak ada secuil pun ingatan tentang aku, tapi di relung hatimu, aku masih ada.

Masih ada.

Ya, masih ada.

Meski dalam ketidakmungkinan.

*Sumber : Mukhsin

Bagaimana Kamu Tahu Bahwa itu Cinta

Jadi ceritanya begini. Awalnya, si pacar menyuruh gue dengerin All About Us-nya He is We feat Owl City. Sebagai pacar yang penurut, gue segera membuka laptop, browsing via Youtube. Dan ternyata lagunya enak. Lebih jauh lagi, gue malah jadi suka sama musiknya He Is We ini. Dari lagu tersebut, gue mulai mencari lagu-lagu mereka yang lain. Dari satu video lagu, ke video lagu yang lain. Lalu, lepas dari band mereka, gue tersasar melalui recommended video di sebelah kanan.

Video dengan views 84 juta.
Sebuah lirik musik video.

Gue sempat heran karena hanya dengan tulisan-tulisan putih dan background hitam, video itu bisa mendapat views yang sangat banyak. Dibimbing rasa penasaran, gue mengarahkan kursor ke video itu, lalu menekan mouse.

Gue memejamkan mata, mencoba menikmati lagunya.

Buat gue, lagu ini sangat sangat pink. Vokalnya sangat perempuan dan musiknya agak “norak”. Liriknya pun lucu. Bercerita tentang perempuan yang merasa lengkap dengan kehadiran kekasihnya. Seperti cinta anak abg yang menganggap pacar adalah segalanya. Yang, dengan adanya si pacar, dia menjadi sempurna sebagai seorang manusia.

Lalu, seperti biasanya, selesai menonton gue scrolling.
Membaca komentar-komentar yang ada di video.

Buat gue, sesi membaca komentar ini adalah sesi yang asyik. Dari sebuah tampilan video, kita akan menemukan berbagai sudut pandang. Dari yang mengkritik, membalas kritikan, memuji, sampai curhat karena si penonton merasa nyambung dengan isi video. Pernah di salah satu video musik, gue menemukan seseorang yang bercerita bahwa lagu itu mengingatkan dia pada kekasihnya yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Sewaktu bersama, mereka selalu menyanyikan lagu tersebut setiap hari. Setelah pacarnya meninggal karena kanker, mendengar lagu itu membuatnya merasa seperti mendengar suara pacarnya. Keren? Banget.

Sampai, gue berhenti pada salah satu komentar.

Sebuah komentar dari seorang perempuan yang bertanya,
‘How do you know if you’re “fall in love”?’

Bagaimana kamu tahu bahwa kamu jatuh cinta.

Komentar tersebut mendapat beragam tanggapan. Dari mulai yang bilang ‘Kamu jatuh cinta ketika kamu menyentuh makanan.’ sampai yang menyebut ‘kamu jatuh cinta ketika membandingkan semua hal indah kepadanya.’ Lalu si orang ini menyontohkan bahwa dia menyebut nama orang yang dicintainya ketika tos-tosan sewaktu ngebir. Dia bahkan sampai mentato nama orang tersebut di dada kirinya. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘Kamu jatuh cinta ketika tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan seseorang.’

Gue lalu mencoba memantulkan pertanyaan terebut ke diri gue. Mencari jawaban atas pertanyaan tersebut jika dilontarkan ke gue sendiri. Dan dari banyak tanggapan, gue menemukan satu yang cocok.

You don’t need someone to tell you when you are in love… you just know it.

Terus terang, sampai sekarang gue masih heran kenapa gue bisa sama Deva. Dari berjuta perempuan lain, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan yang satu banding empat, juga dengan banyak pilihan perempuan yang jaraknya terbilang dekat.

Kenapa?

Lalu gue mencoba berpikir seperti ini:
Jatuh cinta, sama seperti kelahiran seorang bayi, bukanlah sesuatu yang bisa kita buat. (Meskipun ada penelitian yang bilang bahwa kita bisa jatuh cinta dengan siapa saja, artikelnya di sini), tetapi menurut gue, jatuh cinta adalah sesuatu yang dititipkan.

Mungkin di suatu tempat Tuhan sedang melihat gue, lalu Dia bilang, “Adi, Aku titipkan seorang perempuan ke kamu, melalui sebuah perasaan. Jaga dia, rawat dia, lalu tumbuhlah bersama dia.” Lalu TRING! perasaan itu muncul begitu saja. Dan dia, sedang entah apa di sana, beratus-ratus kilometer dari tempat gue duduk dan mengetik tulisan ini sekarang.

And now, I just know it.

*Sumber : Keribo

Thursday, December 3, 2015

Tentang Kangen dalam Sebuah Hubungan

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal terkampret dalam sebuah hubungan adalah kangen. Kangen adalah ilusi paling menyebalkan di muka bumi. Tidak seperti rasa lapar yang bisa diberantas dengan makanan, kangen nggak bisa diapa-apain. Ketika seseorang kangen, itu berarti, ya udah mati aja.

Ketika kangen menyerang, mengerjakan sesuatu jadi terasa tidak enak. Mau tidur resah, mau kerja pun terasa susah karena tidak fokus.

Uniknya, cowok dan cewek, ketika kangen memiliki caranya sendiri-sendiri.

Biar gue jabarkan satu per satu:

Mari kita mulai dari cewek.

Cewek kalau kangen selalu diumbar-umbar. Entah itu lewat Twitter (biasanya dilakukan dengan me-retweet twit-twit kangen tentunya), atau pun dengan cara lain, kayak teriak-teriak “AKU KANGEEN AKU KANGEEEN?!!” di garasi rumah pas ujan sambil gedor-gedor pager.

Lebih jauh lagi, setiap kangen, cewek selalu mengungkapkannya secara frontal ke pasangan mereka. Dan itu akan bikin cowok mereka sebel. Kenapa? Karena cowok nggak bisa ngapa-ngapain. Otak cowok dari sananya sudah “disetel” untuk mencari sebuah solusi. Kalau ada kasus yang datang ke cowok, secara otomatis si cowok akan mencari cara menyelesaikan masalah tersebut. Contoh: kalimat “Aku laper deh.” Solusi: cari makan.

Tapi tidak ada yang bisa dilakukan cowok ketika ceweknya bilang di telepon, “Aku kangen deh.”

DEMI TUHAN KITA GAK TAHU SOLUSI KANGEN APAAAN?!

Nggak mungkin juga ketika cewek bilang gitu kita balas, “Oh kamu kangen. Perkenalkan, aku Aliando.”

Saking gak tahu harus membalas apa, akhirnya cowok cuman bengong dengan ponsel nempel di telinga sampai si cewek kembali nanya, “Kamu kenapa diem aja?”

Akhirnya, demi keutuhan rumah tangga perpacaran, cowok kerap kali melakukan white lies. Setiap cowok ditanya begini sama pacarnya, mereka pasti bakal menjawab: “Iya, aku juga kangen. Hehe. Hehe. Hehehehehehehehe.”

Setelah dijawab gitu, cewek-cewek bakal geer. Begitu mendengar kata “Iya, aku juga kangen sama kamu” dari si pacar, mereka bakal sok-sok bertanya balik sambil malu-malu najong, “Oh ya? Masa sih kamu kangen juga? Ihihihihihihihihik.”

Lalu kita bahas cowok.

Gue sebenarnya tidak ingin menyampaikan ini karena ini rahasia yang sangat pribadi. Tapi demi keadilan dan kemaslahatan umat dunia macho, gue akan kuak ini!! HAHAHAHA!!

Gue bisa jamin, semua cowok melakukan ini ketika lagi kangen. Jadi tolong dibaca baik-baik. Sebagai permulaan, gue akan memberikan data yang sangat spektakuler. Sebuah survey di Amerika mengatakan 9 dari 10 cowok tidak pernah kangen sambil makan tempe mendoan.

Kenapa mereka kalo kangen gak pernah makan mendoan? Karena cowok. Kalo kangen. Gak pernah bilang-bilang.

Berbeda dengan cewek, cowok ketika kangen selalu gengsi. Cowok selalu tidak mau terlihat cemen di mata pacarnya. Makanya, mereka tidak pernah mau mengaku kangen. Perilaku cowok ketika kangen bakal seperti ini: malem-malem, udah siap-siap mau tidur, lampu udah dimatiin, tiba-tiba buka hape (maksudnya liat-liat gallery ya, bukan batrenya dicongkel pake obeng). Lalu si cowok nggak sengaja ngeliat foto dia dan si pacar. Lalu timbullah rasa kangen.

Dan inilah yang ditunggu-tunggu. Fase kangen cowok selama semalaman:
  • 1 jam pertama: mengenang momen-momen di foto sambil tiduran.
  • 2 jam berikutnya: bangun dan mulai senderan ke tembok. Matanya kosong dan mengawang-awang.
  • 5 menit berikutnya: garuk-garuk belakang kepala. Untuk yang kebetulan lagi gatel, biasanya sampai 7 menit. Untuk yang di kepalanya ada tumor ganas, cukup tiga detik.
  • 45 menit berikutnya: nutupin muka pake tangan.
  • Lalu nyanyi lagu sedih sampai pagi.

Besoknya, semua cowok bangun kesiangan. Lalu mereka semua akan sarapan pake omelan si pacar, “Kamu ke mana aja? Bangun kok kesiangan? Emang tidur jam berapa?” Lalu, selayaknya kebohongan yang akan berujung kepada kebohongan lain, cowok akan mencari-cari alasan lain. Bagi para mahasiswa biasanya akan beralasan, “Iya maaf aku ngerjain tugas sampe pagi.” Padahal di dalem hati udah jerit-jerit, “GUE KANGEN ELU SETAAAAN?!”

Jadi gue harap kepada para ilmuwan di luar sana, selain sibuk mencari obat HIV dan Ebola, temukanlah obat kangen.

Membahas postinganini. Iya, gue emang masih malu dan tidak biasa ngomong di depan kamera. Rasanya terlalu aneh buat gue. Ngomong di depan kamera sendirian di dalem kamar itu kayak… kayak ngomong sendirian sama kamera di dalem kamar.

Pokoknya gitu deh.

So, makasih banyak untuk masukan dan komentarnya. Lain kali gue bakal bikin yang lebih bagus dan matang.
*Sumber : Keribo

 

Malaikat Tak Bersayapku


Kepada malaikat tak bersayap,
disampingku.

Hari masih berselimut gelap dan hembus angin menggelitik tulang. Dia mengintip dari balik jendala kamar. Melirik handphone lalu bangun dari mimpi yang kutahu masih ingin dia ulang.

Kreeekkk..

Pintu terbuka. Embun menyapa pelan. Harum aroma tanah menyelinap masuk mengabarkan hari sudah pagi. Juga bekas hujan semalam yang menggenangi teras rumah.

Sedangkan aku masih mengudara dalam mimpi. Dikalahkan kantuk yang seharusnya bisa aku kalahkan.

…

Mama, maafkan aku yang selalu bangun tidak lebih pagi darimu. Yang selalu mengeluh karena ini itu. Yang selalu ingin menang sendiri tak mendengar ucapmu. Yang selalu kekanak-kanakan. Yang selalu minta ditemani kemana saja. Yang selalu lebih manja dari adik-adik.

Sekarang aku sedang belajar untuk lebih dewasa, Ma. Agar senyummu tak pernah lepas dariku. Agar kamu bangga kepadaku. Agar kamu bahagia karenaku. Agar segala lelahmu lepas lalu.

Tunggu aku, Ma. Jangan kemana-mana dulu sebelum aku mewujudkan mimpiku. Mimpimu. Mimpi kita.

Ma, jangan bangun terlalu pagi lagi.

Sulung yang mengaku bungsu.

*Sumber : Ismi Nurbarina

Wednesday, December 2, 2015

Di Sela-sela Hujan

Selalu ada cerita dibalik derai hujan dan rintik gerimis yang jatuh.
Gue, punya segudang cerita tentang hujan.

Bagaimana dia pernah menemani gue menunggu kala itu, bagaimana hujan menimbulkan cemas ketika gue dan dia membuat janji bertemu, dan, bagaimana hujan mengenalkan gue tentang cinta.
Buat gue, cinta itu sederhana. Yang bikin ribet adalah pelakunya.

Seperti beberapa minggu yang lalu, ketika gue terlibat percakapan di telfon bersama seorang teman, Lucky.

Malam itu, kita berdua ngobrolin soal Manado dan Jakarta yang menurut dia jauh, sedangkan menurut gue jaraknya deket-deket aja. Toh, masih Indonesia ini. Yang jauh, kalau lo sendiri yang mutusin buat nganggep itu demikian.

Setelah beberapa lama topik kami diisi obrolan ngalur ngidul, Lucky tiba-tiba iseng nanya,

“Eh, menurut lo, perbedaan antara suka, sayang, sama cinta itu apa?”

Menanggapi ini, gue diem sebentar, mencoba mencerna pertanyaannya.

Dan di sela-sela hening yang tersisa, gue jadi inget seseorang.
Dia, yang membuat gue patah hati.

Iya, buat kalian yang udah main ke blog Adi dan baca postingannya belum lama ini, pasti udah tahu kalau kita berdua emang udah putus. Tapi satu hal yang mau gue klarifikasi dari tulisan tersebut adalah, yang mengambil keputusan waktu itu Adi. Bukan gue. Memang, beberapa bulan sebelum pisah kita berdua sering berantem. Dan akhirnya, masalah-masalah yang kita fikir bakal selesai dengan kita cuekin aja, malah berujung berantakan.

Itu semua kemauan gue. Gue emang paling males mempermasalahkan sesuatu yang sudah berlalu. Makanya, tiap kali berantem dan Adi nyoba ngebahas soal itu, gue langsung males dan iya-iyain aja. Besok-besoknya, kita pasti ketemu masalah dan perdebatan yang sama.

Terlebih lagi, mungkin karena di Manado gue tinggal sendiri, gue jadi rentan kesepian.
Gue butuh temen ngobrol.

Sedangkan Adi, dengan kesibukan dan emang bawaannya cuek, gak bisa selalu ada untuk itu. Gue sendiri bingung sama cinta, disaat yang satunya berjuang buat hubungan mereka, selalu ada aja faktor yang kurang, bahkan hilang.

Gue, kehilangan perhatian.

Ketika gue mencoba mencari kesibukan lain biar nggak kefikiran, Adi malah mikir hubungan kita bakal gitu-gitu aja terus. Sama-sama sibuk, ujung-ujungnya gak bisa ada waktu lagi buat berdua. Giliran ada waktu, pasti ketiduran atau salah satunya memang gak terbiasa.

Contoh kecilnya, yah, ini.

Jujur, gue paling seneng dengan obrolan larut malam, karena memang biasanya di waktu-waktu tersebut seseorang akan cenderung lebih lepas dan apa adanya dengan yang dia rasakan. Ini sangat bertolak belakang dengan Adi, dimana dia paling gak suka ngobrol apalagi telfonan di larut malam. Makanya, gak jarang ketika Adi udah tidur, kerjaan gue cuma melek dan mondar mandir di timeline menjelang subuh.

“Dev? Woi! Lu tidur?”
“Nggak. Belum. Sampe mana tadi?”
“Yaelah. Jadi menurut lo, perbedaan antara suka, sayang, sama cinta apa?”

Gue menarik nafas sebentar, kemudian mengutarakan semuanya. Definisi apa adanya yang terlintas di fikiran ini. Cinta, yang selalu sederhana untuk gue.
Pada saat kamu suka pada seseorang, kamu akan memaksanya menyukaimu. Pada saat kamu sayang pada seseorang, kamu akan membiarkannya memilih. Dan pada saat kamu mencintai seseorang, kamu akan selalu menantinya dengan setia.
Suka adalah hal yang menuntut. Sayang adalah hal yang memberi dan menerima. Cinta, adalah hal yang memberi dengan rela.
Ketika orang yang kamu sukai menyakitimu, kamu akan marah dan tak mau lagi bicara padanya. Ketika orang yang kamu sayangi menyakitimu, kamu akan menangis untuknya. Dan ketika orang yang kamu cintai menyakitimu, kamu akan berkata, ‘Tak apa, dia hanya tak tahu apa yang dia lakukan.’”

Gue dan Lucky kembali terdiam sebentar. Sesaat setelah mengutarakan itu, hati kecil gue seolah berbisik sesuatu.

Yes sir, I’m losing you, but I’m finding myself now.
 Sumber : Predeva

Sunday, November 29, 2015

Followers

10 Top Post

Pengunjung

Total Pengunjung

Featured Post

Hal Ngeselin Saat Main Clash Of Clans

Sebagai mahasiswa semester 4 gue mulai mengalami kejenuhan di dunia perkuliahan. Gue ngerasa tiap hari kerjaan gue Cuma ketemu tugas, tu...

Powered by Blogger.